Showing posts with label catatan gua. Show all posts
Showing posts with label catatan gua. Show all posts

Wednesday, 14 August 2024

Review Sepatu Outdoor League Raung, Setelah Setahun Dipake

Review Sepatu Outdoor League Raung, Setelah Setahun Dipake

SUATU hari, gue cuma iseng liat aplikasi belanja, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, ada barang yg curi perhatian. Oh, ternyata ada sepatu outdoor yg lagi murah meriah dijual, dan langsung aja gue bayar. 

Sepatu yg gue bahas kali ini yaitu League Raung, dari merk lokal League. Sekilas, bahannya dari suede sama mesh dalam warna hitam sama motif bergaris luar (outline) merah, warna yg sama kayak talinya. Solnya juga punya kelir yg sama. Harga normal sepatu League ini sekitar 700rb, tapi gue dapetnya di angka sekitar 120rb akibat diskon besar besaran. 


Sewaktu baru

Setelah sepatunya dikirim, gue penasaran dong, kayak gimana kalo dipake jalan jalan, tapi sesuai kegunaan dan fungsi sepatunya, di outdoor. Tujuan pertamanya ke Tahura Bandung dulu, dan rasanya nyaman dipake. Selanjutnya gue jalan jalan ke Jayagiri, Gunung Putri, bahkan sampe ke Puncak Upas, Manglayang, sama lainnya. Malahan, semua entri soal hiking (mulai 2023-sekarang), itu dilalui sambil pake sepatu ini. Bisa kalian klik aja ya di sini cerita hikingnya.


Di Giri Wening


Puncak Gunung Singa

Puncak Upas Tangkuban Parahu

Di salah satu pendakian ke Puncak Upas lewat Sukawana, sepatunya sempet jebol di kaki kiri, bagian belakangnya. Beruntung, ada ibu ibu yg tolongin gue dgn ngasih tali ikatan. Akhirnya begitu gue turun dan balik ke Bandung, langsung minta jahit. Ini terjadi setelah gue pake sepatu ini ke-16 kalinya (dalam hiking, gak termasuk pemakaian sehari hari di kota)di Maret 2024 sejak debut di jalan jalan ke Tahura di Agustus 2023. Sebagian besar perjalanannya sih cuma hiking ringan di Jayagiri atau Cikole, sama yg lebih serius ke Manglayang sama Burangrang. Artinya dalam 8 bulan, sepatu ini kuat sampe jebol pertama.

Untuk sepatu kanannya, gue jahitin juga buat jaga jaga biar lebih kuat. Sepatu ini belum waterproof, jadi kalo kita jalan dan kena air, airnya terserap dan kaki bakal basah. Bahan busa di dalemnya ngasih kenyamanan sewaktu jalan dan kerasa ada grip atau cengkraman dari tapaknya di medan yg licin.


Kondisi terbaru sepatunya (Agustus 2024)




Beberapa pulnya udah lepas atau sobek

Salah satu yg gue perhatiin, meskipun talinya lepas dari simpul, gak kerasa jadi kurang erat di kaki, masih sama aja kayak talinya keadaan disimpulkan. Ini cukup ngebantu di tengah pendakian atau trekking, gue gak usah sering berhenti buat taliin sepatu, dan jarang banget, atau bahkan gak pernah talinya keinjek sampe gue terpelanting.

Menurut gue sih, dengan kualitasnya, sepatu ini udah cukup buat trekking atau tektok, meskipun belum waterproof. Itu artinya kalian harus perhatiin semisal pake ini tapi cuaca hujan atau ada kubangan air. Nyaman, andal, pas dipake. Malahan, buat sehari hari di kotapun, sepatu ini gak bikin keberatan, hampir kayak sepatu lari biasa aja. Dan di bawah ini kesimpulan review gue:

KELEBIHAN
  • Harga relatif terjangkau
  • Ringan dipakai di aktivitas harian (termasuk non-hiking)
  • Nyaman 
KEKURANGAN
  • Belum waterproof
  • Kurang andal di pendakian bermedan berat
  • Sudah stop produksi

Monday, 29 July 2024

Hiking Gunung Burangrang via Legok Haji: Pendakian Seru Penuh Tantangan!

Hiking Gunung Burangrang via Legok Haji: Pendakian Seru Penuh Tantangan!

BERKALI-KALI gue muncak ke Kawah Upas lewat Sukawana, berkali-kali juga liat gunung besar di sebelah baratnya yg selalu bikin gue penasaran, apalagi waktu jalan di ladang teh di tengah pendakian. Gunung apa sih itu? Kenapa banyak suara yg sampe kedenger ke sini? Gimana ya rasanya naik gunung itu? Di tengah pendakian ke Kawah Upas itu juga, sedikit demi sedikit pertanyaan gue dijawab para hikers, sebut itu gunung Burangrang. Apa gak sebaiknya gue cari tau sendiri jawaban pertanyaan yg lain? Ya gak ada dong, makanya gue beraniin diri buat beneran ke gunung Burangrang itu.


Sengaja, gue gak tanya gimana medan pendakian sama suasananya, biar lebih seru dan gak bocorin plotnya kayak nonton film. Itu dibiarin sampe akhirnya gue datengin dan sampe di base campnya. Letaknya lumayan agak jauh dari pusat kota Bandung, perjalanannya 1 jam lebih. Tiket masuk atau 'simaksi' Gunung Burangrang seharga Rp. 15,000 untuk hiking, dan parkir motornya Rp. 10,000, Rp. 25,000 untuk mobil (dan Rp. 50,000/malam kalo pengunjungnya menginap). Tempat campingnya luas loh, dan gak perlu khawatir gak bawa makanan sama perlengkapan hiking, ada yg nyewain sama warung sebelum jalur pendakian.


Pintu Masuk


Warung warung

Mulai dari gerbang ini

Langsung aja ya, gue mulai cerita pendakiannya. Di luar dugaan gue, ternyata langsung nanjak sehabis lewati tempat camping. Pos 1 masih agak deket sih dari base camp, sekitar 30 menit dgn catatan gue berhenti 1-2 kali. Lanjut ke Pos 2, dan medannya makin nanjak dan menantang. Waktu tempuhnya sedikit lebih pendek daripada base camp ke Pos 1, dan setelah gue liat catatan waktu di keterangan foto, perjalanan udah makan waktu 50 menitan, hampir 1 jam.

Tenaga gue mulai terkuras di pendakian ke Pos 3, dengan medan yg makin berat. Tanjakannya curam, jalan lewat akar akar pohon sekaligus buat pegangan. Entah berapa kali gue berhenti, yg pasti kalian mesti bawa minum sama makanan yg cukup, atau kalau bisa lebih. Hampir 50 menitan habis ke Pos 3 ini. Menurut pendaki lain, masih ada 1 pos lagi, yaitu pos 4 sebelum ke puncak, tapi tantangan yg gue rasain di sini lebih ke fisik. Gue udah beberapa kali disusul pendaki lain, bahkan sama buibu! Gak apa apa, mending istirahat kalo udah capek. Hampir 2 jam durasi pendakian gue ini dari base camp ke Pos 4 yg dipenuhi akar akar pohon besar yg merambat. 

urutan semua pos searah jarum jam (kiri atas pos 1)

Baju jadi basah kuyup akibat keringat, tapi kering lagi sama sinar matahari dan angin, botol minuman 1,5l udah sedikit lagi isinya, dan kaki udah gak jelas lagi capeknya. Masih lama gak sih? Kata pendaki lain, sebentar lagi. Tapi sebentarnya itu kayak gimana? Untunglah ada hiker yg ngasih sebotol air minum di sini. Setelah hampir 3 jam di jalur ini, ada tangga kayu. Ternyata, di ujung tangga itu ada....

Di antara pos 2-3


Inget, pagar bambu ini di antara Pos 3-4

Gue coba tiru gaya Siuuu tapi gak beneran lompat, udah terlalu lemes. Selebrasi itu gak sempurna, dan gue berbaring aja di tanah yg datar ini, di samping gue ada tugu penanda. Bukan sembarang tugu, karena ini jadi patokan kalo gue.... sampe di puncak Gunung Burangrang, di 2050 mdpl. Oh. Udah. Sampe. Akhirnya.





Beberapa pendaki yg udah sampe duluan nyambut gue dengan ramah, dan gak lama juga sih, karena mereka lanjut makan makan sama temen satu rombongannya. Gue ikutin orang aja yg banyakan itu jalan ke arah timur, lalui turunan yg lumayan curam tapi gak ada lagi akar akaran besar kayak di pendakian. Enak banget rasanya nurunin ini dgn langit cerah sama gunung gunung lain di sepanjang pemandangan. Gue bisa liat Situ Lembang dari kejauhan, Tangkuban Parahu yg lebih jauh lagi dgn patokannya menara pemancar, sama lainnya yg belum sempet gue tanya orang lain gunung apa aja itu.



Mau lama lama di puncak, tapi tengah hari makin panas; sedangkan kalo cepetan turun, sayang, naiknya susah. Ngobrol ngobrol aja dulu ya, sambil foto pemandangan? Oke. Ada juga para pendaki yg tadabur, muji keindahan alam gunung Burangrang dan sekitarnya ini.

2 jam diabisin di puncak Burangrang ini, dan sekarang saatnya gue turun. Tantangannya jelas, harus turunin jalan yg curam, pegangan ke akar sama apapun yg bisa dipegang erat. Saking sedikitnya jalan permukaan datar, gue sampe gak bisa tentuin di mana aja, yg pasti di 3/4 pendakian, itupun cuma beberapa belas meter, dan ada 2 aja sepanjang jalur dari awal sampe selesai. Gue sampe kepleset beberapa kali, tapi beruntung gak sampe luka atau jatoh lebih parah.

Pendakian ini ditutup dengan penurunan yg gue catet berlangsung selama 1 jam 40 menitan. Ada sih tujuan lain kayak Curug Cipalasari yg jalurnya ada di deket Pos 1, tapi lain kali aja ya, kaki udah gak kuat. Ini barulah pendakian yg gue rasa, menurut pengalaman gue yg masih rintisan ini, berat banget. Selain Curug Cipalasari, tujuan selanjutnya pendakian lewat Tanjakan Mentari. Kayaknya bakal sama capenya, jadi kudu siap siap nih sama tanjakannya; sama kayak sebelumnya disebut, gue gak usah cari di google kayak gimana, biar tebak sendiri nanti.



Wednesday, 24 July 2024

Nonton Euro 2024 Copa America Beruntun 11 Jam

Nonton Euro 2024 Copa America Beruntun 11 Jam

MUSIM BOLA memang udah lewat, tapi ada kesan yg masih seger beberapa minggu setelah pagelaran Euro 2024 sama Copa America. Kedua turnamen ini diadain hampir secara bersamaan (dari awal), dan secara keseluruhan pertandingin laga di hari yg sama. Buat penonton di Indonesia, ini bisa jadi tantangan atau malah keberatan semisal ada yg nonton semua laganya terus menerus. Ini karena semua laganya, dimulai dari Euro, kick off laga pertamanya jam 11 malem, lanjut jam 2 subuh untuk kedua, dan jam 5 sama jam 8 pagi untuk Copa America. Tapi gue coba aja deh, sekalian ngerasain turnamen itu.

Kilas balik kita ini ngebawa kembali ke matchday terakhir fase grup Euro 2024, tepatnya di grup E sama F. Pertandingan pertama yg gua tonton (Romania vs Slovakia) dimulai jam 11 malam, tanggal 26 Juni. Di sini, kedua tim cuma butuh seri aja buat lolos ke babak gugur, dengan Slovakia masuk peringkat 3 terbaik. Slovakia yg duluan cetak gol lewat tandukan Ondrej Duda di menit 24. Rumania dapet pinalti dari Ianis Hagi yg dijatohin di kotak pinalti. Razvan Marin bisa samain kedudukan 1-1 dengan gol pinaltinya. Habis dari situ, gak ada lagi gol tambahan yg sekaligus bikin keduanya beneran lolos. Sempet ada kekhawatiran terulangnya "Aib Gijon" piala dunia 1982, ketika Jerman Barat cetak 1 gol, becandain permainannya supaya mereka sama Austria lolos, tapi beruntungnya, gak terjadi.


laga Ukraina vs Belgia juga akhirnya seri

Ada waktu sejam nih sehabis kedua laga itu, dari jam 1-2 dini hari WIB, dan dipake buat diem dulu sama tiduran sedikit. Masih ada 3/4 jalan lagi buat nonton semalam suntuk bahkan sampe pagi ini. Laga selanjutnya dari grup F, yaitu Georgia lawan Portugal, yg juga dibarengi Turki vs Ceko. Waktu itu nentuin banget mana yg lolos atau gugur, sekaligus di sisi lain Hungaria cemas tunggu semisal Ceko sama Georgia kalah yg ngebikin mereka ada peluang lolos sbg peringkat 3 terbaik.

Baru 2 menit laga Georgia vs Portugal dimainin, Georgia langsung unggul lewat gol di menit ke-2 dari pemain andalannya, Kvicha Kvarastkhelia. Selanjutnya, pertandingan cukup ketat, tapi sampe turun minum belum ada gol lagi, sedangkan di Turki vs Ceko masih 0-0. Di babak kedua, Georgia tambah gol lagi lewat tendangan penalti topskor mereka di euro ini, Georges Mikautadze. Portugal terus serang tapi terus gagal cetak gol. Di injury time, kiper Georgia Giorgi Mamardashvili 2x selamatkan gawangnya dari tembakan para pemain Portugal. Ini kejutan yg luar biasa buat Georgia yg baru debut di ajang Euro, di luar ekspektasi banyak orang. 

lupa gak foto laga Turki vs Ceko

Di saluran TV lainnya, Turki bisa menang 2-1 dari Ceko, dengan gol dari Hakan Calhanoglu & Cenk Tosun, cuma dibales sekali Ceko lewat Tomas Soucek. Kemenangan Turki lawan Ceko ini mengulang pencapaian yg sama di Euro 2016. Sayangnya, di akhir pertandingan sempet ada perkelahian, bahkan pemain masih dikartu setelah peluit panjang! Dengan selesainya kedua laga itu, artinya buat sekarang Euro 2024 selesai juga fase grupnya, begitupun bagiannya dalam ketahanan nonton ini, hehe. Di jam 4 subuh tinggal nunggu sejam lagi buat nonton Copa America.

Setelah solat subuh, nonton bolanya dilanjut ke laga antara Ekuador vs Jamaika. Dari Ekuador ada wonderkidnya, Kendry Paez yg tampil bagus padahal masih 17th. Jamaika sendiri diperkuat pemain West Ham Michail Antonio. Ada gol cepat di menit 13 yg dimulai dari pemain Ekuador Piero Hincapie ngumpan lambung dari kiri, tapi sayangnya kena pemain Jamaika, Kasey Palmer yg coba tekel dan golnya dianggap gol bunuh diri dari Palmer. Ekuador tambah skornya jadi 2-0, si wonderkid Paez cetak gol dari penalti. Antonio sempet manfaatin kemelut di depan gawang Ekuador yg dimulai dari corner kick buat dijadiin gol, 1-1. Sayangnya, Ekuador unggul lagi, golnya sekarang dari Alan Minda yg bawa bola dari garis pertahanannya sendiri, skema counter attack. Akhirnya, Ekuador menang 2-1 dan Jamaika harus gagal lolos ke babak gugur, ini kekalahan keduanya waktu itu.

ini yg katanya baju keren Jamaika, dan beneran keren!



Dari awal babak kedua, matahari udah keliatan dan hari berganti jadi pagi, yg nandain gue udah cukup lama mantengin TV dari awal pertandingan Rumania vs Slovakia. Tapi, masih ada 1 lagi pertandingan yg mau gue saksiin, yaitu Venezuela vs Meksiko yg masih dari grup yg sama dgn Ekuador & Jamaika. Meksiko yg sekarang gak ada lagi Chicharito, Andres Guardado, Memo Ochoa dan 'Chucky' Hirving Lozano, hampir kebanyakan pemain muda dari liga dalam negeri. Kalo dari Venezuela, ada striker kawakan Salomon Rondon & kapten Tomas Rincon yg berpengalaman di serie A

Pemain Meksiko nyanyiin lagu kebangsaan negaranya

Gue udah mulai ngantuk di pertengahan laga, dan nonton semampunya aja. Venezuela bisa tekan Meksiko sama bikin beberapa peluang, tapi di babak pertama belum bisa dieksekusi jadi gol. Barulah di babak kedua, bek kanan Jon Aramburu dijatohin di kotak penalti. Salomon Rondon berhasil bawa negaranya unggul 1-0. Meksiko juga sama sama dapet kesempatan dari titik putih, tapi bisa digagalin kiper Venezuela. Skornya bertahan sampe selesai, dan jam di HP udah nunjukkin sekarang jam 10 pagi. Berarti udah 11 JAM berturut turut nonton bola!


Sebenernya ada lagi 4 laga beruntun di perempat final Euro & Copa America tanggal 7 Juli, cuma masalahnya gue gak nonton yg keempatnya. Gak apa apa, pengalaman langka yg cuma 4 tahun sekali ini seru kok, gak enaknya bikin capek, pusing, ngantuk sama jadi begadang aja, hehehe.





Friday, 12 April 2024

Bukber di Masjid Bandung: Bagian 5

Bukber di Masjid Bandung: Bagian 5

BUKBER di Masjid bisa jadi pilihan buat kalian yg gak mau bukber biasa aja kayak yg selalu ditanyain temen temen, termasuk sesama alumni sekolah atau kuliah. Tanpa perlu keluar uang buat ini sepeserpun, karena memang tujuannya buat berbagi dgn sesama di bulan puasa. Nah, kayak gimana sih, suasana bukber di beberapa masjid di Bandung? coba kita bahas. Entri ini sebenernya lanjutan dari entri dgn tema sama, yg bisa kalian klik aja di sini buat baca.

Gue mulai dari Masjid Lautze 2 di jalan Tamblong no. 27, pas banget di pertigaan yg bersebrangan sama tugu pemain persib. Agak susah cari tempat parkir di sini, paling buat motor dinaikkin ke pinggir masjidnya. Dari luarpun udah keliatan banyak orang duduk di trotoar, nunggu waktu berbuka sambil diarahin koko Rachmat Nugraha, tokoh masjid ini, supaya tertib. Ada juga yg bagi bagiin makanan buat berbuka ke pengguna jalan di seberang masjid.

 

isinya nasi ayam, oseng sayuran & tahu

buat buka puasa


Untuk selanjutnya, ada masjid yg baru pertama kali gue sambangin, yaitu Junudurrahmah di Jl. Sumbawa no. 32. Kebetulan banget, ada acara bukber komunitas motor di sini. Mereka bagiin makanan di depan masjid. Buat dari masjidnya sendiri ada di belakang, para jemaah bisa ambil kolak, air minum & kurma.


suasana sebelum buka puasa



Nah, buat yg terakhir di tahun ini, gue balik lagi ke tempat favorit warga Bandung, yaitu Masjid Raya, atau seringnya disebut Masjid Agung. Mau bulan puasa atau engga, di sini rame. Pake banget. Dua gambar di bawah ini udah nunjukkin seberapa riuhnya kawasan sekitar masjid, di Dalem Kaum sama di dalam masjidnya.




Kalo mau buka puasa di sini sih harus agak lebih awal karena memang sebanyak itu yg mau buka bareng. Sebagian ada yg sengaja duduk di pelataran masjid sambil bawa makanan sendiri dari rumah atau beli di manapun itu. Kali ini, makanan yg para jemaah dapetin, termasuk gue, ada pudding, lumpia, kue, lemper ayam sama semacem martabak telor kecil.


Memang di Masjid Agung makanan yg dibagiin lebih ke penganan ringan bukan main course (seenggaknya bukan sewaktu gue dateng), tapi dari suasananya lebih mendalam karena di sinilah yg paling rame. Letak masjidnya yg dikelilingi banyak tempat belanja, bangunan bersejarah bikin warga berbondong bondong ke sini, selain karena dari dulu udah terkenal. 

Sebenernya, makanannya itu bonus, tujuan gue bukber di masjid itu biar lebih ngerasain rasa kebersamaannya, bukber dgn orang yg gatau siapa sambil menikmati makanannya.  Mungkin untuk taun 2024 ini sampe di sini, masih banyak sih masjid yg belum gue masukkin ke daftar tujuan yg baru bisa dimulai lagi nanti di 2025. Khusus entri tema ini, sampe jumpa ya di 2025!



Bukber di Masjid Bandung : Bagian 4

Bukber di Masjid Bandung : Bagian 4

AGAK telat bahas ini, tapi selama bulan puasa yg baru aja dilewatin, gue seperti tahun tahun sebelumnya suka bukber di masjid. Gue mau cari pengalaman unik di tiap masjidnya, pengen rasain apa aja makanan di sana, terus suasananya yg ada.

Tempat pertama di bulan puasa yg gue kunjungin itu Masjid Salman ITB, tapi sayangnya gue gak kebagian makanannya. Lanjut sehari kemudian gue sambangin lagi Masjid Istiqomah di Jalan Citarum. Masih sama kayak biasanya, setelah solat magrib, makanan disajikan ke jemaah yg mesti baris rapi dulu. 

Nah, sewaktu gue dateng, makanannya ada gorengan, kurma sama air minum buat buka, dan setelah solat ada makan beratnya/main course. Kali ini ada nasi, sayur lodeh, perkedel, fillet ikan sama sambel. Makanannya ganti tiap hari tapi gue cuma 1x ke sini di tahun ini.


Hampir setahun ini kan gue suka ke Lembang buat hiking, dan tiap kali berangkat lewat Masjid Besar Lembang yg bersebelahan sama Alun Alun. Tapi gimana ya, suasana buka puasa di sana? Di tengah hujan yg tiba tiba turun, gue sempetin buat rasain, meski harus basah basahan. Begitu azan, langsung aja ikut duduk di dalam masjid, nanti dibagiin hidangannya yg berupa kue, gorengan (gak kefoto, udah dimakan) sama kurma. 

Berhubung ini di alun alun, banyak orang yg ngumpul di sini, entah buat ngabuburit atau main aja. Di sekitaran masjid dan jalan Lembang ini juga pilihan jajanannya beragam





Balik lagi ke Bandung kota buat tempat ketiga, yaitu Masjid Raya Cipaganti. Masih seperti biasa juga, ngantri buat dapetin makanannya. Kali ini gue dapet bubur kacang, teh botol sama kurma. Sehabis solat, gue lanjut makan berat, pesen mie ayam cipaganti yg terkenal itu.



Di awal kan disebutin kalo bukber di masjid pertama gue tahun 2024 ini diwarnai gue gak kebagian makanan, tapi kenapa ya? Ternyata tata caranya untuk 2024 ini beda dari sebelumnya, yaitu tinggal tunggu makanannya setelah solat. Di percobaan kedua, gue tanya dulu sana sini, dan akhirnya ketemu jawabannya: gue gak dapet kupon makanan, yg bisa diminta di dalam ruangan masjid. Gue kebagian kupon warna hijau, satu di antara tiga yg ada selain putih sama biru. Masakannya juga beda antara kupon itu.



Begitu solat magrib selesai, jemaah yg ada kupon bisa langsung antri di booth pembagian makanannya, sesuai warna kuponnya. Lumayan, gue dapet nasi, semacem schotel, fillet ayam goreng, sama tahu. 



Ada beberapa tempat lagi yg gue kunjungi di ramadhan 2024 ini, tapi lanjut ke entri terpisah ya, kepanjangan kalo semua di sini. Klik sini buat kelanjutannya.



Tuesday, 9 April 2024

Pasar Kaget di Bulan Puasa

Pasar Kaget di Bulan Puasa

Kalo udah deket lebaran, orang sibuk sana sini cari baju lebaran. Biar gaya gitu lho trus mungkin biar ngebuka "halaman baru" dgn baju baru, atau laper mata aja. Diskon gede sampe setengah harga susah banget dilewatin sebagian dari kalian kan? Itu juga yang jadi daya tarik tempat belanja yang gue mau bahas di sini. 

Di Bandung, kawasan jalan Trunojoyo, Sultan Agung, sama Sultan Tirtayasa tiap taun di bulan Ramadan rutin jadi destinasi belanja favorit, apalagi buat anak muda. Kata banyak orang sih, itu disebutnya Trunojoyo Street Market, yang bikin rame jalanan yang di hari biasa agak tenang &  lengang ini.


Udah beberapa tahun belakangan gelaran ini ada di akhir bulan ramadhan, dan menarik banyak orang buat dateng. Mereka yg lagi cari baju lebaran punya banyak banget pilihan toko pakaian di kawasan ini, bahkan  para pedagangnya sampe meluber ke pinggir jalan. Salah satu tempat favoritnya ada di pinggir toko olahraga di Trunojoyo, berbagai merk kasih potongan harga yg juga macem-macem, malah setengahnya dari harga normal.

Riuhnya Trunojoyo di bulan Puasa

Lokasi Trunojoyo Street Market (2024)

booth di Trunojoyo Street Market

Keramaian suasananya ngga terbatas cuma di jalan Trunojoyo, tapi ke jalan lain di sekitarnya seperti Sultan Agung & Tirtayasa. Anak anak muda penuh semangat rame-rame datang kemari dengan pakaian mereka yg keren, meski tujuannya juga buat beli pakaian baru. Biar keliatan lebih bagus sama pede, mungkin ya? Tapi, di sini ngga 'mudah' buat mereka yg cari pakaian baru buat lebaran, karena tawaran diskon atau barangnya yg menarik dari satu toko ke yang lainyna. Ini yg bikin mereka susah bisa langsung beli di satu tempat tanpa liat yg lain, harus cari sana sini dulu, pilih mana yg terbaik menurut mereka yg masih pas di dompet.


Dari jalan Tirtayasa


Suasana di jalan Sultan Agung

Persimpangan Jalannya

Sayangnya, keriuhan di 'pasar kaget' di sini ngga bertahan begitu lama, cuma sampe seminggu setelah lebaran. Meski begitu, buat mereka pecinta street wear Bandung pasti udah tau dan tiap tahunnya nunggu momen spesial ini. Justru karena ngga selalu ada, jadi kerasa lebih ngena, kan? Di tahun baru juga biasanya ada promo di beberapa toko di tempat sama yg serupa kayak ini, cuma menurut gue yg di bulan puasa jauh lebih rame.