Showing posts with label Konser. Show all posts
Showing posts with label Konser. Show all posts

Friday, 30 September 2022

Nonton Konser Setelah Dua Tahun

Nonton Konser Setelah Dua Tahun

Dua taun belakangan ini kan kita digerus ama virus 'rona yang bikin ancur segala rupa, termasuk hiburan. Nonton panggung acara musik susah digantiin sama konser lewat youtube atau tempat streaming apa aja, kan ngga bisa cengkrama ama yang nyanyinya langsung. Mau screeenshot di HP atau komputer ngga sama lah rasanya kayak foto bareng di belakang panggung pas mau balik artisnya.

Konser terakhir yang gua datengin itu di Unpar, di hari kabisat 2020 pas beberapa minggu sebelum semua jalan ditutup, ngga boleh ada rame-ramean. Waktu itu ada Elephant Kind. Penasaran aja kayak gimana lagunya, oh ternyata begitu, masuk lah ama selera gua. Sayangnya si vokalis lagi berhalangan dateng dan digantiin ama kakaknya, yang lebih dikenal ama nama panggung Neonomora. Gua ngga nyangka akibat semua ini bisa absen lama dari datengin 'acara', bukan acara keluarga eaa

Untungnya situasi udah membaik mulai taun ini, trus acara musik balik ada lagi. Ya bisa disebut gitu lah, meskipun gua liat di awal taun konser bermunculan tapi harga tiketnya semua di atas 50rb. Trus di mana nih yang pengen ngerasain langsung atmosfer musik tapi duit cekak? Kebetulan gua temuin satu yang tetiba nyita perhatian di layar HP.

Di daerah Kiaracondong, atau tepatnya di Kiara Artha Park, lagi ada hajatan salah satu merk mobil Jepun (yang itu lah namanya). Buat masuk, pengunjung beli tiket berbentuk gelang kertas seharga Rp. 10,000, tapi buat ke acara panggungnya ngga ada biaya, paling registrasi aja secara online. 

Di dalemnya ada banyak permainan, termasuk simulator balap. Sim Rig yang dipake keren lah, spek dewa; kibor ama mousenya aja warna warni, trus grafisnya mulus banget jalanin rFactor 2 tanpa lag. Kata si akang stafnya, "Ini yang sama yang dipake Max Verstappen latihan lho!" Mana di sirkuit Zandvoort pula (yang kecilnya). 

Udah dulu main mainnya, lanjut ke yang selama 2 taun ini gua nanti nanti; nonton band. Bocoran lagu yang bikin mereka terkenal:

"Salah kau curahkan hatimu, berkasih dengan sahabatku..."

"Dan, semenjak ada dia... kamu bukan kamu yang seperti dulu"

"Kemanakah dirimu, yang selalu merindukanmu..."

Yee, berasa nonton FTV SCTV yang ada Shareena, Ryan Delon, Tyas Mirasih, Eza Gionino, Rendy Kjarnett.... Njir, gua hapal banget.

Kebanyakan yang nonton ibu muda ama ciwi ciwi, mereka girang banget pas satu per satu personil bandnya ini naek panggung. Trus buka penampilan pake lagu Bunga Jiwaku, lanjut Sempat Memiliki, Sakit Hati, Dia Milikku, Menjaga HatiSetampan Romeo, sama yang tadi di awal disebut; Indah Kuingat Dirimu.

Sayangnya gua baru bisa liat band ini sekarang, udah beda banget kecuali basisnya. Tapi kata salah satu vokalisnya, "Ini pertama kali lho di Bandung Yovie Nuno main pake formasi baru!" Wah, awal suatu era baru. Menurut mbah gugel, vokalisnya yg tersisa dari jaman lo suka dengerin lagunya di FTV tadi, Dikta, keluar baru beberapa bulan kebelakang. Itu lho, si kaka yg pake kacamata. Tapi ada penggantinya.

banyak cewenya kan...

Ada momen yg bikin baper banyak penontonnya sana, pas kedua vokalis undang salah satu dari mereka naek ke panggung. Dia ditanya, "udah pernah dilamar?" Ngejawab "Belum" sambil gugup, penonton cewe ini dinyanyiin Janji Suci sama kedua vokalis.

sampe kebawa mimpikah?

Suasana bergairah lagi sama lagu yang lebih bersemangat kayak Juwita, Merindu Lagi. Gua kira bakal ada Mengejar Mimpi, tapi pas langit udah sedikit gelap, lagu FTV lain -Manusia Biasa- malah jadi penutup acara mereka di sore itu. 

Kalo diitung-itung, ada sekitar 10 atau lebih lagu yg Yovie Nuno bawa dari awal sampe beres. Beberapa penonton nyerbu belakang panggung, ya paling mau minta tandatangan atau foto bareng (masa mau ngajak mabar game HP?) Yang lain ke deket danau buat nyantai sambil liat teja (cahaya kuning-kuning keorenan pas mau maghrib). Sayang kan, tiket Kiara Artha Park senilai Rp. 10 ribu ini dibiarin menguap gitu aja tanpa ngerasain suasana ramenya. Buat gue, ini permulaan yang cukup bagus nonton konser secara langsung, saatnya kembali cari lagi konser gratisan Bandung, hehe

katanya klo Senin-Jumat sebelum jam 2 siang gratis 





Thursday, 14 November 2019

First Kickfest in 6 Years

First Kickfest in 6 Years

This is the English version of my article about Kickfest. Click here to view the original post in Indonesian.
FOR the last 12 years youths in Indonesia have flocked to festivals or clothing expos such as Kickfest. It’s not only where to shop clothes, bags, accessories and the details, but this festival always has stages for entertainment. Famous artists (whether renown nationally, underground or indie) are longed for every years as they bring more interesting or cooler shopping experiences & attractions.

So much for the overview of Kickfest, now we’re marching toward the main idea of this entry: my very own experience. Kickfest is held annually, but not on a yearly/12-month-basis I attend it. As far as I can recall, I have attended 6 times out of the total of 13 “seasons” of Kickfest (as of 2019).

On a bright, sunny Sunday morning in August, I went to Gasibu Square for a walk, like many Bandung citizens liked to. Kiosks and their supporting pillars were all over the square and there were so many people. It took me several minutes to find out that this event bore the title Kickfest 2008. It’s a rather brief description I can give in this context; aside from being new to the festival, I carried little money with me therefore I didn’t spend my money on any products.

The following year in November, Kickfest moved to Sabuga. At that time, the ticket price for Kickfest was Rp. 5,000 and entirely sold offline. I hadn’t had the chance to watch the music shows as I only wanted to buy shirts. There were no photos of documentation as I didn’t have a cellphone myself, let alone a camera. I saved the entrance ticket, but unfortunately it went missing when I was searching for it, and I will post its photo when I recover it. In 2010, Kickfest once again moved out, this time to Siliwangi Stadium. The schedule was moved forward to July. Alas, heavy rain and other reasons I forgot deterred and cancelled me from attending.

Kickfest finally returned to Gasibu for 2011, and it saw the ticket price rose to Rp. 10,000. Started from this edition (or maybe because I skipped 2010) the entertainment aspect was greatly improved to be cooler and more varied. There were more stands than ever (so they said) and the artists who performed were Pure Saturday, Koil, Rock n Roll Mafia, and even Malaysian popstar Liyana Fizi. In 2012 edition the venue remained the same, but the stage performance I remember was Cupumanik with their single “Grunge Harga Mati”.


It was crowded at Gasibu 2011

Otong Koil (Gasibu 2011)
Together with my 2 school friends, I attended the 2013 edition which moved to the north, beside the Monument of West Java People Struggle (colloquially as Monju). The nice part was, 2 tickets could be exchanged for a compilation CD by Kickfest. I had the chance to watch Aldonny “Themfuck” of Jeruji heat up the crowd as the vocalist of the Bandung-based hardcore band before he stepped down 2 years later. At least, importantly, I got to watch Themfuck’s twilight era. Too bad one of us had to leave earlier, and as a respect gesture I gave him the CD when later we met. 

Themfuck talking to the fans
6 Years Later...

5 editions had been skipped, but it wasn’t only on purpose, because I once forgot (2014-16), probably out of money (2017), and the line-up didn’t fit my preferences enough (2018). Ticket price for 2019 Kickfest was Rp. 30,000, or increased by 300% from 2009 edition. Why was 5,000 to 30,000 300%, not 500%? Because Rp. 5,000 in 2009 translated to Rp. 7,600 di 2019 after being adjusted to the inflation, and the percentage would be 294% for7,600 to 30,000. Having checked the previous events’ brochures, turned out that 2019 Bandung Kickfest was the 6th consecutive edition starting in 2014 to be held at Pussenif TNI. 


lining up at the ticket booth
Since I left, the festival saw more things to offer, back then I didn’t see car auction, basketball game, karaoke, VR game, etc, which were present in 2019. The event days were extended to 4 days (Thursday-Sunday) as opposed to the traditional 3 days (Friday to Sunday). At a glance I felt unfamiliar with Kickfest, the people visiting looked much younger, cuter and I believed that their ages were below mine (what?). Chances were they had been in primary school when I went to Sabuga 2009, or Gasibu 2011. Those who were in the same age as mine were rather hard to identify. Could they remain younger, stay cute and adorable as if they never left their adolescent years? Hahaha. I think they were driven by past memories of school or college era, or just wanting to buy discounted clothes. Some might not be confident enough to come due to their age, but has there been any maximum age restrictions for visitors? Nope. There were more brands participating in this edition..

some sport event...
Many people were securing the front rows for watching Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) and Koil. Otong as Koil’s vocalist still gave his comical approach in breaks between songs his band performing. He said, in his time people could get new dates from getting band stickers, but the attendance said they preferred money more to that. When they were asked if they wanted money or Mercy keys (Binter Merzy) they all fell silent, most likely they didn’t get what he was talking about. Ify Alyssa’s relaxing performance was succeeded by full-throttle mood by Elian, Midnight Quickie and Weird Genius without breaks in between. When each said “thank you everyone”, other artist got their hands on the stage quickly. Remix of Blackpink song heated up the attendance.

UTBBYS

Koil


It all summed up that the energy, charm, and excitements of Kickfest remained unchanged for 6 years since last I attended. The festival now saw the newer generation of audiences than in its early years, who might learn about this festival from passed down stories of their elder siblings, relatives and scrolling their social media feeds. I even got to the assumptions that there were 3 kinds of Kickfest people, the ones shopping, the ones watching the show, and the ones going for both as the show and the shopping experiences were equally appealing.

...and it's stinky. Cover your nose!
After all of this, what more should be added to its excitement, in this trend of shopping that’s become entirely different than it was in late 2000s-early 2010s. If I, at some point suddenly take another break from going to the festival again, will it remain cool when I decide to make a return in the next few years? What else should be made to keep the festival away from being dull? This is interesting for us to see.. 
Same atmosphere from time to time.



Sunday, 3 November 2019

KICKFEST Pertama dalam 6 Tahun...

KICKFEST Pertama dalam 6 Tahun...

Versi bahasa Inggris dari artikel Kickfest ini bisa kalian klik di sini. Selamat membaca!

Sejak 12 tahun ke belakang para anak muda di Indonesia sering berbondong-bondong datengin pameran atau expo pakaian yang disebut Kickfest. Nggak cuma jadi tempat belanja pakaian, tas, aksesoris ama perintilannya, tapi acara ini juga diisi panggung hiburan. Artis-artis terkenal (entah itu secara nasional, underground, atau indie) tiap taun selalu dinanti-nanti pengunjungnya yang bikin suasana belanjanya lebih enak, atau keren.


Sekian dulu selayang pandang soal Kickfest, sekarang lanjut ke pokok pembahasan tulisan ini: Pengalaman gua. Kickfest memang tiap taun ada, tapi nggak rutin per 12 bulanan juga gua dateng. Semampunya gua inget, dateng udah 6 kali dari total 13 "musim" pagelaran Kickfest (per tahun 2019).

Di suatu Minggu pagi yang cerah di Agustus gua jalan-jalan ke Lapangan Gasibu seperti banyak warga Bandung suka lakuin. Terpal-terpal kios dan tiang-tiang penyangganya penuhin lapangan itu dan banyak orang berkerumun. Butuh beberapa saat buat gua cari tau kalo acara ini namanya Kickfest 2008. Singkat yang bisa diceritain karena selain kurang familiar sama acaranya, gua nggak bawa banyak duit, jadi nggak sempet belanja apa-apa.

Setaun selanjutnya di bulan November, Kickfest pindah ke Sabuga. Waktu itu, harga tiket Kickfest masih Rp. 5,000 dan semuanya secara offline. Belum kesampaian nonton pentas musiknya, waktu itu cuma mau beli baju. Nggak ada foto karena gua nggak punya HP, boro-boro kamera. Gua simpen tiketnya tapi sayangnya pas dicari belum ketemu, pasti bakal posting di sini kalo udah ada. Taun 2010, Kickfest lagi-lagi pindah, kali ini ke Stadion Siliwangi. Jadwalnya juga dimajuin ke bulan Juli. Apa daya, hujan deras dan hal-hal lain batalin gua ke sana.

Kickfest akhirnya kembali ke Gasibu untuk 2011, dan harga tiketnya naik jadi Rp. 10,000. Baru di edisi ini (atau mungkin karena gua lewatin 2010) aspek hiburannya jadi lebih keren dan variatif. Stannya lebih banyak dari sebelumnya (katanya itu juga), dan band yang main ada Pure Saturday, Koil, Rock n Roll Mafia, bahkan artis Malaysia Liyana Fizi. Di edisi 2012 masih sama tempatnya, tapi penampilan yang gua inget dari Cupumanik.

riuhnya Gasibu 2011
Otong Koil (Gasibu 2011)
Bareng 2 orang temen sekolah, gua dateng ke edisi 2013 yang maju ke arah utara di pinggir Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju). Asyiknya, 2 tiket di sini bisa dituker CD kompilasi Kickfest. Sempet gua liat aksi Themfuck dari Jeruji sebagai vokalis band hardcore Bandung itu sebelum Beliau mundur 2 taun berikutnya. Yang penting gua ngalamin lah akhir era Themfuck. Sayangnya satu dari kami bertiga harus cabut, dan sebagai penghormatan, gua kasih dia CD itu waktu ketemu lagi. Seru juga ya belajar sejarah Kickfest dari sudut pandang gua, hehe.

Themfuck nyapa penggemar
6 Tahun Kemudian...

5 edisi Kickfest gua lewatin, tapi bukan disengaja aja penyebabnya, karena gua sempet lupa (2014-16), mungkin bokek (2017), dan menurut gua line-up band nya kurang sreg (2018). Harga tiket Kickfest 2019 ini Rp. 30,000, atau naik hampir 300% dari edisi 2009. Kok 5,000 ke 30,000 300% sih, bukannya 500%? Karena Rp. 5,000 di 2009 setara Rp. 7,600 di 2019 setelah disesuaikan sama inflasinya, dan persentasenya 294% untuk 7,600 ke 30,000. Setelah gua liat brosur-brosur lama, ternyata Kickfest Bandung 2019 ini edisi ke-6 secara beruntun sejak 2014 yang digelar di Lapangan Pussenif TNI.
Ngantri!
Sejak  gua tinggalin, acaranya makin beragam, dulu belum liat ada lelang mobil, main basket, karaoke, game VR, dll yang di 2019 ada. Hari penyelenggaraannya dibikin melar jadi 4 hari (Kamis-Minggu) dari semula tradisional 3 hari. Sekilas gua ngerasa pangling dengan Kickfest, karena kebanyakan orang yang dateng mukanya imut-imut dan gua yakini di bawah gua semua umurnya (hah?). Ada kemungkinan mereka ini masih SD ketika gua sambangi Sabuga 2009, atau Gasibu 2011. Yang seumuran gua agak sulit diliat, mungkinkah mereka itu awet muda, tetep ucul dan imoets seakan tak beranjak dari umur belia? Hehe. Gua rasa mereka didorong kenangan masa lalu pas sekolah atau kuliah, kalo nggak cuma mau beli pakaian diskon. Beberapa mungkin nggak pede buat dateng karena mereka “ingat umur”, tapi emangnya pernah ada batas maksimum umur pengunjung? Nggak kan. Makin banyak pula distro yang ikutan di sini.

Ada olahraganya juga.
Banyak yang siap-siap di depan, nonton Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) dan Koil. Mang Otong sebagai vokalis masih dengan pendekatan jenakanya di jeda antar lagu yang dibawain. Katanya Beliau, dulu dari saweran stiker band bisa dapet pacar, tapi penonton bilang anak jaman sekarang lebih mau dapet duit. Giliran ditanya duit atau kunci Mercy (Binter Merzy) malah pada diem, mungkin nggak ngerti. Penampilan Ify Alyssa yang adem disambung suasana gas pol Elian, Midnight Quickie dan Weird Genius tanpa jeda. Begitu ada yang bilang "terima kasih semuanya" artis yang lain langsung pegang panggung. Remix lagu Blackpink gua liat disambut heboh penonton.

UTBBYS
Koil


Ternyata, energi, daya tarik dan keseruan Kickfest tetap terjaga setelah 6 taun gua tinggalin. Para pengunjungnya udah datang generasi baru daripada yang datang di awal-awal masanya, yang mungkin tau festival ini dari cerita turun-temurun kakak atau saudara mereka dan lewat geser-geser beranda sosial media mereka. Gua sampe nganggap ada 3 jenis pengunjung Kickfest: yang mau belanja, yang mau nonton pertunjukkannya dan yang mau dua-duanya karena antara hiburan sama belanjanya sama menariknya.

Ya ampun, bau! Tutup hidung!
Selepas ini, apa lagi yang ditambah menarik, ditengah tren belanja pakaian yang sekarang udah berbeda dibanding di akhir 2000-awal 2010an. Apa nanti tetiba gua rehat lagi, bakal tetep sama kerenkah begitu gua datang beberapa taun setelahnya? Apalagi ya yang harus dibikin biar ngga begitu-begitu aja? Ini yang menarik ditunggu.

Suasana yang kurang lebih sama dari dulu.

Wednesday, 13 December 2017

BEKRAF Festival 2017

BEKRAF Festival 2017

Sekira seminggu yang lalu gua liat gambar jadwal acara ini di Facebook. Gua jadi penasaran apa sih acara ini, yang digelar dari hari Kamis (7/12) sampe Minggu (10/11). Sayangnya, di hari Kamis dan Jumat gua lupa dateng meski mau. Gua malah nggak keluar rumah sama sekali di hari Sabtu karena cuaca di daerah rumah gua nggak bagus. Di Malem Minggu, barulah gua pastiin rencana hadir di acara yang tiga kali gagal gua datengin.

 
 
Minggu (10/12) sore di kota Bandung hampir sama kayak Minggu-Minggu lainnya; cuacanya sejuk, nggak panas atau hujan. Gua abisin waktu sekitar setengah jam di perjalanan dari rumah ke tempat acara BEKRAF Festival di Gudang Persediaan PT. KAI Bandung. Dari jalan Sukabumi udah macet karena emang banyak yang parkir di pinggir jalan juga banyak orang yang lalu-lalang dan keluar masuk tempat acara. Nggak ada tiket buat hadirin acara ini, gratis, tis tis. Orang tinggal masuk keluar aja semau mereka. Ini jenis acara yang gua sukai, hahaha.

Jalan menuju lokasi utama acara dikawal dinding-dinding yang dihiasi mural.


Penjaja makanan yang tampil dengan mobil van sama tenda-tenda.

Tadi di awal kan ada dinding mural, makin ke dalem ada lagi tempat yang dikerubuti orang buat berfoto. Terowongan (atau apa lah ini disebutnya) warna kuning yang berbentuk hampir mirip sangkar dirancang dengan desain kotak-kotak.


Tibalah gua di tempat utama acara BEKRAF Festival ini. Tempatnya luas banget dan jalannya agak panjang dari satu titik ke titik lain. Ada dua panggung di acara ini, yang satu besar dan lainnya kecil. Karena nggak terlalu jauh, gua mulai dulu dari yang besar. Banyak kios-kios makanan atau produk-produk lain macem kain, baju, sampe kopi di sekitaran panggung utama. Kerumunan orang mulai terkonsentrasi di sini, selain karena para pembawa acara mejeng di mari.


Lanjut ke panggung yang kecil. Tempatnya agak jauh di pojok sebelah barat dan nggak keliatan dari persimpangan yang ngehubungin satu tempat ke tempat lain. Jauhnya jarak ke panggung kecil nggak dirasa karena banyak hal unik yang gua temuin. 


Ada layar video mapping tentang sejarah animasi Indonesia, stan-stan dari Deputi HKI, Infrastruktur, Riset Edukasi, dll. Gua juga nemuin banyak produk dan hasil karya kreatif dari para pengrajin sama pelaku usaha dari banyak daerah di Indonesia. Unik-unik deh, ada yang majang baju, ukiran, bahkan ada juga motor modifikasi yang narik perhatian. 



Dari semua pajangan dan stan yang ada di bagian barat tempat ini, ada satu yang seru. Banyak orang ngantri di salah satu tempat pendaftaran, apa sih itu? Ternyata itu antrian buat daftar masuk wahana Digidome yang katanya nampilin sesuatu yang seru tentang luar angkasa. Gua cari tau segimana serunya itu dengan jajal langsung wahananya. Tenda ukuran gede yang dibuat gelap dijadiin “proyektor” besar buat para pengunjungnya. Sayang banget, nggak boleh ada yang motret di dalem sini. Intinya, ada tontonan ilustrasi tentang luar angkasa dan terbentuknya aurora sama nebula.

Foto luarnya sih boleh

Di saat sore berganti malam, kerumunan orang makin banyak dan padat karena mereka nungguin aksi panggung salah satu band kenamaan asal Bandung yang disukai banyak orang. Apa coba? Langusng aja ya, jam setengah 8 malem band pop Mocca naek panggung! Gila, banyak banget yang nontonnya! Teh Arina sang vokalis ramah banget sapa para penonton di awal pertunjukan.

Gua sih kurang begitu apal lagu-lagu Mocca, tapi karena ini band yang paling ditunggu-tunggu, sayang dilewatin aksi panggungnya. Yang gua tau sih, Secret Admirer, On The Night Like This, I Remember, sama Bundle of Joy dan itu semua dimainin. Lagu Me & My Boyfriend -perkenalan gua pada Mocca saat gua tonton videoklipnya di taun 2003- ngehibur banget semua yang di sana. Sekitar 8 lagu (kalo nggak salah) sukses bikin seneng para penonton. Dan bisa ditebak, begitu selesai semuanya suasana jadi nggak padat lagi.

Di awal-awal manggung

pas bawain Secret Admirer

Mocca beres langsung pada pulang haha

Dari semua yang gua liat dan rasakan di ajang BEKRAF Festival 2017, acara ini bagus sekali. Emang sih, banyak yang gua lewatin, kayak manggungnya HMGNC, Karinding Attack & Angsa Serigala di hari Jumat, Seringai Jeruji, sama Mustache & Beard di hari Sabtu, pemutaran film indie, bincang-bincang bareng para pesohor sama lokakarya ekonomi kreatif (yang jadi sajian utama seluruh pagelaran ini) dan lain-lain. Seandainya gua nggak lupa, seandainya nggak ini-itu... Nggak apa-apa lah, penampilan Mocca, dan kerennya tempat sama konsep acara udah cukup menghibur.

Malem, markitpul....

NB : lain kali jangan lupa ya kalo ada acara beginian, jangan kuper deh hahaha...

Thursday, 19 October 2017

Festival Empat Musim : Yamato Damashii

Festival Empat Musim : Yamato Damashii

Udah lama banget ya gua nggak nulis di sini, haha! Gua mau cerita tentang festival budaya yang tiga minggu lalu (23-24/9) digelar di kampus STBA Yapari-ABA Bandung, bertajuk Yamato Damashii XII. Gelaran ini selalu ada setiap taunnya sejak 2006 dan taun ini temanya Shiki No Matsuri atau “festival empat musim”. 

Kayak taun-taun sebelumnya, festival ini digelar dua hari; hari pertama lomba akademik, pagelaran budaya, pertunjukkan tarian Souran Bushi dari HIMADE, kontes cosplay, sing dan dance cover, hari kedua diisi konser grup musik, tarian, dan atraksi lain. Gua nggak bisa datang di hari pertama karena berhalangan, baru hadir di hari kedua festival itu. Tiket masuk dibanderol Rp. 15.000,00 plus akses ke Obake House atau Rp. 12.000,00 doang kalo tanpa masuk hiburan tambahan itu.


Cuaca hari Minggu (24/9) mendung, tapi para pengunjung tetep dateng dan suasananya cukup ramai. Setiap taunnya hajatan Yamato Damashii selalu nyedot banyak perhatian, khususnya mereka yang suka banget jejepangan. Area parkir kampus disulap jadi tempat penyelenggaraan festival. Ada beberapa kios yang jajain pernak-pernik jejepangan dan makanan juga minuman. 

Ciee berfoto

Di sebelah utara ada photobooth atau lebih tepatnya spanduk besar poster Yamato Damashii. Banyak yang mau berfoto di sini, termasuk mereka yang pake kostum mirip tokoh animasi/permainan/kartun/komik Jepang. 


Penyelenggara juga nyiapin tempat istirahat yang atapnya dibuat dari ijuk dan dibuat Jepang banget, biar dapet suasana tradisional Jepangnya.

Jam 5 sore gerimis mulai turun, dan gua masuk ke dalem kampus. Lapangan dalam ruang yang luas jadi tempat inti acara ini digelar. Ruangan yang dijuluki lanmer atau lantai merah (ya begitu warna lantainya) diisi lebih banyak lagi kios makanan, suvenir, pernak-pernik dan hadir juga kursus bahasa Kyoto Minsai yang ikut ngelapak. Makanannya yang dijual di sini bermacem-macem, dari okonomiyaki, taiyaki, takoyaki, sosis bakar, roti lapis, dan lain lain.


gantungan kunci yg dijual salah satu kios

yang harus diperhatiin para pengunjung

Kursus Kyoto Minsai

Sebenernya gua mau masuk ke Obake House, tapi terlambat karena nonton dulu penampilan grup musik. Buat yang nggak tau, Obake House itu wahana tambahan di setiap ajang Yamato Damashii yang bakal nguji urat takut pengunjungnya. Ruang kelas di lantai teratas kampus berubah jadi rumah hantu yang menakutkan dengan segala teror di dalamnya. Lebih apes, saat gua selesai nonton, eh, dikasih tau ternyata wahana itu udah selesai juga, ditutup.

Foto pas istirahat Maghrib

Dan inilah penampilan grup musik yang gua bilang barusan. Ada band Thousand Sunny yang cukup terkenal di kalangan penyuka musik Jepang. Bahkan sebelum para anggotanya naik panggung, massa band ini udah menuhin tempat digelarnya pertunjukkan itu. Ada yang bawa spanduk besar, dan banyak yang pake baju rilisan band itu. Gua ngerasain antusiasme para penonton Thousand Sunny nikmatin penampilan band kesukaan mereka. 

Thousand Sunny

Lagu-lagu yang dibawain sama sekali nggak gua pahami. Setelah lima atau enam lagu, Thousand Sunny tutup penampilan mereka di malam itu dengan bagus, meskipun para penonton teriak-teriak “ankoru, ankoru!” atau minta lagu tambahan.

Terakhir, ada DJ Yochi yang ikut semarakkan suasana. Lagu house music yang dia bawain juga nggak familiar buat gua, hahaha tapi bikin para penonton joget-joget ajojing. Gua sih bukan penggemar musik house music atau lagu ajep-ajep, tapi ya gua ikuti irama dan suasana aja. 


Dari laptop dan perangkat musik lainnya yang gua nggak tau apa namanya, DJ Yochi ngasih energi yang kuat di puncak hajatan Yamato Damashii. Sekira setengah jam atau 40 menitan DJ yang satu ini menggoyang lanmer. 

Jam 9 malem, hajatan bertema Shiki No Matsuri dari Yamato Damashii XII di STBA Yapari-ABA Bandung resmi selesai. Orang-orang ninggalin tempat acara dan sebagian masih beres-beres lapak, atau berfoto bareng para penampil di acara itu. Mungkin gua lewatin banyak penampilan di hajatan taun ini, tapi penampilan Thousand Sunny dan DJ Yochi cukup menghibur. Setelah semua selesai, gua kembali lagi ke keseharian gua yang..... ya gitu deh haha.


Udah sepi, saatnya pulang